Minggu, 28 Agustus 2011

Lentera

Secangkir susu & Sepotong roti
Pada malam yang pekat, ada seorang pemuda sedang berlari di tengah hujan badai.Ia kemudian berteduh pada teras sebuah rumah. Kemudian ia beristirahat. Tubuhnya dingin dan merasa lelah.
Tak lama kemudian empunya rumah keluar, perempuan setengah baya. Melihat ada empunya rumah, pemuda tadi cepat-cepat mohon ijin dengan sopan. "Maaf, Bu. Saya hanya numpang berteduh. Mohon Ibu mengijinkan."
Perempuan itu menganggukan kepala dan tersenyum bijak, lalu bergegas masuk  ke rumah.Tak lama berselang ia menghampiri pemuda tadi dengan membawa secangkir susu hangat dan sepotongg roti.
"Nak, ini ada secangkir susu dan sepotong roti untuk menghangatkan perutmu. Itu makanan yang ibu punya," kata perempuan pemilik rumah. Agak malu-malu, pemuda itu menghabiskannya. Begitu perutnya terisi, ia merasakan tubuhnya terasa hangat dan badannya terasa segar.
Tahun pun berganti. Pada suatu hari, pada sebuah rumah sakit kota besar, ada seorang perempuan tua sedang ditandu karena kondisi yang kritis akibat penyakitnya. Untuk menyelamatkan nyawa perempuan tua itu, dokter rumah sakit memutuskan melakukan tindakan operasi.
Beberapa hari kemudian, setelah selesai menjalani operasi, perempuan tua itu terlihat tidak tenang karena memikirkan biaya operasi.
"Bagaimana aku bisa membayarnya?" tanyanya dalam hati. Ia memberanikan diri bertanya kepada seorang perawat tentang biaya pengobatannya.
Tak lama kemudian, sang perawat kembali mendatanginya sambil membawa sepucuk surat. Perempuan tua itu lalu membaca surat itu, sesekali melihat ke arah perawat tadi.
" Ibu yang baik. Perkenalkan saya adalah dokter kepala yang mengoperasi dan merawat ibu. Ibu tidak perlu khawatir tentang biaya. Seluruh biaya pengobatan telah saya lunasi. Ini sebagai tanda terima kasih saya atas pemberian secangkir susu dan sepotong roti yang pernah ibu berikan dahulu. Saya adalah pemuda yang pernah berteduh di teras rumah ibu.Semoga Tuhan memberi kesehatan dan umur panjang kepada ibu."
Selesai membaca surat itu, meneteslah air matanya, terharu bercampur lega.Perempuan tua itu tak pernah menyangka bahwa perbuatan yang dianggap kecil dan tanpa pamrih yang pernah dilakukan pada masa silam, ternyata membuahkan kebaikan yang tidak terkira. Bukan hanya jiwanya terselamatkan , tapi seluruh biaya pengobatannya telah dilunasi.
Para pembaca budiman, 
Kisah ini mengajarkan kepada kita akan pentingnya berbuat baik, sekecil apapun.
Ada kata mutiara,"orang yang berbuat baik, walau rezeki belum tiba, tetapi bencana telah menjauhinya".Kata - kata mutiara itu menunjukan bahwa keberuntungan bisa diciptakan dan dimiliki oleh siapapun. Namun keberuntungan tidak muncul tiba-tiba, melainkan  melalui sebab-sebab yang kita ciptakan. 
Salah satu pengundang keberuntungan adalah perbuatan baik kepada sesama. Jika perbuatan baik dapat menghindarkan kita dari mara bahaya, berarti perbuatan baik pasti membawa keberuntungan. Sebaliknya, perbuatan zalim sudah pasti menutup pintu-pintu rezeki, dan cepat atau lambat pasti mendataangkan bencana.
Mari kita bersihkan hati dan jauhi niat-niat melakukan perbuatan jahat, tidak menyenangkan, menyakiti orang lain, merendahkan harga diri dan martabat orang lain.
Setiap kali adaa hasrat atau pikiran tak terkendali yang mengarah pada perbuaatan jahat, ingatlah selalu kalimat ini:
"Orang yang suka berbuat jahat akan dijauhi rezeki dan didekati bencana, sementara orang yang suka berbuat baik dijauhi bencana dan didekati rezeki."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar